Bandung Dengan Segala Potensinya Untuk Membahagiakan Semua

Pekerjaan rumah yang belum selesai yang diwariskan oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil menjadi tantangan yang cukup berat bagi calon Walikota berikutnya.  Pekerjaan rumah berat tersebut harus segera diformulasikan kedalam berbagai kebijakan publik yang efektif dan efisien. Sehingga kedepan tidak lagi terdengar permasalahan klasik seperti pemerataan pertumbuhan ekonomi, peningkatan dan pemerataan layanan dasar publik, penegakan hukum dan penataaan tata ruang lingkungan hidup, keamanan dslb.

Berdasarkan data BPS, Kota Bandung memiliki pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata Jawa Barat dan Nasional terutama dari tahun 2005 s.d 2012 dengan rata-rata pertumbuhan 8,4 persen per tahun. Jika dilihat dari posisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Kota Bandung ada di urutan ke 19 (20 besar) Kabupaten-Kota Se-Indonesia pada tahun 2014. Data tersebut dapat dikatakan sebagai capaian positif pembangunan Kota Bandung, Meskipun IPM Kota Bandung yang cukup tinggi secara nasional, ternyata hal tersebut disebabkan oleh faktor PDRB yang tinggi, PDRB kota Bandung yang tinggi tersebut masih menyisakan permasalahan distribusi pendapatan yang jomplang antara kelompok masyarakat terkaya dan termiskin. Peringkat harapan hidup dan tingkat pendidikan masih berada jauh di bawah kota/kabupaten lainnya.

Ketimpangan ini dapat ditunjukkan dengan angka Gini Rasio yang masih dikisaran 0.44 (data BPS 2016) dengan disertai trend angka kemiskinan dan ketimpangan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kemudian kota Bandung juga memiliki angka pengangguran terbuka 8.04%, pekerja formal  840 ribu orang, pekerja informal masih 256 ribu orang (2014), serta under employment 109 ribu orang (2012). Data-data tersebut menunjukan bahwa hanya sebagian kecil masyarakat Kota Bandung yang menikmati manfaat dari pertumbuhan ekonomi serta pendapatan rata-rata yang tinggi.

Selain itu dalam hal pemenuhan layanan dasar, tingkat pendidikan di Kota Bandung terbilang masih rendah dan angka putus sekolah yang tinggi terutama pada 30 persen masyarakat miskin kota. Sehingga dapat disimpulkan kebijakan pendidikan di Kota Bandung belum optimal. Dalam bidang kesehatan, angka harapan hidup Kota Bandung berada di ranking 35 dibanding kabupaten/kota lainnya secara nasional. Ketimpangan ekonomi serta distribusi pendapatan yang tidak merata berimbas pada meningkatnya resiko keresahan sosial dan meningkatknya angka kriminalitas. Tingkat kriminalitas yang tinggi adalah musuh besar bagi kota jasa seperti Kota Bandung.

Selain itu dalam hal pemenuhan layanan dasar, tingkat pendidikan di Kota Bandung terbilang masih rendah dan angka putus sekolah yang tinggi terutama pada 30 persen masyarakat miskin kota. Sehingga dapat disimpulkan kebijakan pendidikan di Kota Bandung belum optimal. Dalam bidang kesehatan, angka harapan hidup Kota Bandung berada di ranking 35 dibanding kabupaten/kota lainnya secara nasional. Ketimpangan ekonomi serta distribusi pendapatan yang tidak merata berimbas pada meningkatnya resiko keresahan sosial dan meningkatknya angka kriminalitas. Tingkat kriminalitas yang tinggi adalah musuh besar bagi kota jasa seperti Kota Bandung.

Selanjutnya dalam penataan dan penegakan hukum tata ruang dan lingkungan Kota Bandung belum dilaksanakan secara optimal. Sehingga kualitas lingkungan hidup pun menurun, polusi udara, air dan tanah serta sampah belum terkelola dengan baik. Kawasan-kawasan kumuh kota yang berada di jalur hijau, bantaran sungai dlsb blm tertangani dengan baik. Ditambah lagi rasio jalan dan kendaraan yang tidak seimbang membuat kota menjadi tidak nyaman untuk ditinggali.

Indeks Kebahagiaan Kota Bandung dibawah kepemimpinan Ridwan Kamil memiliki kecenderungan yang meningkat, dimana pada tahun 2015 mencapai angka 70,6 dari skala 1-100. Akan tetapi dengan permasalahan-permasalahan substansial Kota Bandung yang masih belum terselesaikan tersebut diatas maka kebahagian belum dapat dirasakan oleh warga kota Bandung secara merata. Oleh karenanya kami menawarkan beberapa tawaran solusi permasalahan kota Bandung, antara lain:

Permasalahan Ekonomi

  • Progressive Budgeting adalah proses pengalokasian anggaran pemerintah yang pro terhadap masyarakat miskin, pro terhadap kesetaraan gender, dll sehingga pertumbuhan ekonomi, peningkatan PDRB dapat dirasakan secara merata oleh seluruh warga kota Bandung.
  • Inclusive Growth adalah sebuah konsep yang mengedepankan kesempatan yang adil bagi seluruh pelaku ekonomi selama terjadinya pertumbuhan ekonomi dimana manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
  • One RW One Product adalah sebuah konsep menumbuhkan ekonomi kerakyatan melalui peningkatan sentra-sentra produksi berbasis RW dengan cara membuka akses permodalan, peningkatan skill kewirausahaan dan konektifitas terhadap pasar.

Permasalahan Layanan Dasar

  • Menjadikan Aparat Sipil Negara sebagai aktor utama dalam pelaksanaan pemerintahan yang bersih dan professional.
  • Optimalisasi layanan dasar pendidikan, kesehatan, keamanan dan lingkungan.
  • Menciptakan birokrasi yang berorientasi pada pelayanan terhadap masyarakat.

Permasalahan Penataan Tata Ruang dan Lingkungan

  • Perencanaan, Pengendalian dan Penegakan hukum tata ruang dan lingkungan yang berkelanjutan.
  • Penataan kawasan kumuh
  • Pengembangan Pariwisata Sejarah dan Budaya sebagai integrasi penataan kawasan wisata yang berbasis masyarakat berdasarkan tema-tema unggulan sesuai dengan kekhasan wilayah-wilayah di Kota Bandung.

Pekerjaan rumah menanti dihadapan calon Walikota Bandung berikutnya yakni bagaimana memenuhi Indeks kebahagiaan Masyarakat Kota Bandung, Indeks Kebahagian adalah indeks komposit yang disusun dari tingkat kepuasan masyarakat terhadap 10 aspek kondisi kehidupan esensial di antaranya Kesehatan, Pendidikan, Pekerjaan, Pendapatan rumah tangga, Keharmonisan keluarga, Ketersediaan waktu luang, Hubungan sosial, Rumah dan aset, Lingkungan, Keamanan. Pekerjaan rumah tersebut merupakan amanat warga Bandung tercinta, dan dengan senang hati Saya Chairul Yaqin Hidayat (Ruli Hidayat) akan berusaha sekuat tenaga mewujudkannya.