Rd. HOS. Tjokroaminoto

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau yang lebih dikenal dengan nama H.O.S Cokroaminoto, merupakan seorang pemimpin salah satu organisasi yaitu Sarekat Islam (SI) dan beliau dikenal sebagai Salah satu Pahlawan Nasional. Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo.

Kondisi sosial di masa Tjorkoaminoto dibesarkan adalah masyarakat yang penuh dengan penerapan-penerapan norma agama Islam. Paling tidak sejak kecil beliau telah terbiasa dengan tata cara semacam itu. Dalam bidang pendidikan, oleh ayahnya, beliau dimasukkan dalam lembaga formal yang saat itu masih berada dibawah naungan kolonialis. Hal ini terjadi karena Tjokroaminoto termasuk dalam golongan kelas ningrat, sehingga tidak ada hambatan dan kesulitan untuk belajar sebagaimana anak-anak ningrat dan anak-anak pejabat lainnya.

Sebagai seorang anak priyayi, Tjokroaminoto tentu saja dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak priyayi pula, yaitu Raden Ajeng Soeharsikin, putri seorang patih wakil bupati Ponorogo yang bernama Raden Mas Mangoensomo. Raden Ajeng Soeharsikin, yang setelah menikah menjadi Raden Ayu Tjokroaminoto, dikenal sebagai seorang wanita yang halus budi pekertinya, baik perangainya, besar sifat pengampunannya dan cekatan. Walaupun tidak tinggi pendidikan sekolahnya, namun beliau sangat menyukai pengajaran dan pengajian agama. Tentang Raden Ayu Soeharsikin, pernah digambarkan oleh Soekarno sebagai berikut, “Bu Tjokro adalah seorang wanita yang manis dengan perawakan kecil, serta bertubuh bagus, itu yang nampak dari luar, tetapi yang lebih bagus adalah wataknya, terlihat dari penuturannya, dan jawaban yang diberikan menunjukkan jika beliau memiliki kesetiaan kepada suami tidak hanya secara lahir tetapi juga secara batin, kecintaan itu ditunjukkan kepada semua orang termasuk keluarganya sendiri.

Sebagai pimpinan Sarekat Islam, HOS dikenal dengan kebijakan-kebijakannya yang tegas namun bersahaja. Kemampuannya berdagang menjadikannya seorang guru yang disegani karena mengetahui tatakrama dengan budaya yang beragam. Pergerakan SI yang pada awalnya sebagai bentuk protes atas para pedagang asing yang tergabung sebagai Sarekat Dagang Islam yang oleh HOS dianggap sebagai organisasi yang terlalu mementingkan perdagangan, tanpa mengambil daya tawar pada bidang politik. Dan pada akhirnya tahun 1912 SID berubah menjadi Sarekat Islam.

Di samping sebagai tokoh politik, H.O.S Tjokroaminoto juga memiliki keahlian-keahlian antara lain: Seorang seniman, beliau termasuk pencipta dan pecinta kesenian Jawa, gamelan Jawa, bahkan pernah menjadi peran aktor anoman melawan dasamuka. Ketika beliau dalam penjara pernah menulis puisi jeritan hati menurut rakyat pribumi dan kemudian terkenal dengan fragmen dalam bahasa Belanda.

Tjokroaminoto juga seorang pemimpin serta organisator yang ulung bagi pergerakan bangsanya terutama dalam pergerakan Sarikat Islam. Seorang wartawan, karir ini dirintisnya sejak berada di Surabaya, dsengantulisan yang tajam lagi jitu di surat kabar, dan pernah menjadi pembantu surat kabar Suara Surabaya, disaat Sarekat Islam ada dalam kepemimpinannya maka mendirikan surat kabar Oetoesan Hindia dengan nama Fajar Asia dan majalah Al-Jihad, bersama kawan seperjuangannya.

Beliau juga seorang orator yang berbakat, hal ini pernah dilukiskan oleh P.P Dahler dalam pidatonya sebagai berikut: “Perawakannya mengagumkan, bekerja yang keras dan tidak mengenal lelah, mempunyai suara yang indah dan berat mudah didengar oleh beribu-ribu orang yang seolah-olah terpaku pada bibirnya apabila ia berpidato dengan lancar dan keyakinan yang sungguh-sungguh.” Begitu pula pernah dilukiskan oleh Wondoamiseno, bahwa Tjokroaminoto: “Kalau bicara tidak banyak agitasi, bicaranya lempang lurus tegas dan jitu, alasan-alasannya mengandung dalil dalil yang benar, sehingga sukar untuk dibantah dan biasanya mengandung semangat berwibawa yang menyala-nyala bagi mereka yang mendengarkannya sehingga terbakar hatinya, bagi pihak musuh tunduk karena tepat dan benar.”

Sebagai pemimpin besar SI/PSII tak terasa Tjokroaminoto di tahun 1934 telah berusia 52 tahun. Pada saat itu beliau sudah mulai sakit-sakitan. Walaupun demikian Tjokroaminoto sampai saat-saat terakhir hidupnya masih terus berjuang bersama SI, dan di kongres XX di Banjarnegara yang diadakan 20-26 Mei 1934 ia masih turut hadir dan inilah kongres SI terakhir yang dihadirinya setelah berjuang lebih dari 22 tahun lamanya di SI/PSII. Di kongres ini Tjokroaminoto memberikan wasiat tertulis ’Program Wasiat’ yang merupakan suatu rencana ’Pedoman Umat Islam’ dan disahkan oleh kongres. Sebelumnya oleh kongres XIX Batavia Maret 1933, ia diserahi tugas penting yang nampaknya hanya dipercayakan padanya untuk menyusun ’Reglement Umum Bagi Umat Islam’. Oleh Tjokroaminoto konsep ini diserahkan pada kaum PSII (Partai Sarikat Islam Indonesia) pada tanggal 4 Februari 1934 dan disahkan oleh kongres Banjarnegara 1934.

Rakyat Indonesia jelas amat kehilangan salah satu putra terbaiknya. Maka untuk menghargai jasa-jasa dan sumbangsihnya kepada negara baik dalam bentuk tenaga, pikiran, bahkan harta benda yang tak dapat dihitung besarnya, berdasarkan S.K. Presiden RI. No.590/1961 Tjokroaminoto pun diangkat menjadi pahlawan nasional